Menghela tradisi ke arus ekonomi kreatif
Jakarta (ANTARA) - Ada paradoks yang terus berulang dalam cara kita memperlakukan produk tradisional. Kita kerap menuntut para perajin menjaga kemurnian warisan leluhur tanpa kompromi, sementara pola konsumsi masyarakat di sekelil...
Jakarta (ANTARA) - Ada paradoks yang terus berulang dalam cara kita memperlakukan produk tradisional.
Kita kerap menuntut para perajin menjaga kemurnian warisan leluhur tanpa kompromi, sementara pola konsumsi masyarakat di sekelilingnya telah berubah total.
Batik, tenun, kriya anyaman, dan gerabah diperlakukan bak relik suci yang tabu disentuh inovasi bentuk.
Festival digelar megah, pameran kriya dipadati seremonial, dan piagam penghargaan dibagikan kepada para maestro desa.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang hampir selalu luput dari perhatian para pembuat kebijakan: Siapa yang akan membeli karya-karya tersebut ketika wujud fisiknya tidak lagi sesuai dengan kebutuhan hidup modern?
Persoalan ini kian mendesak karena produk