Gunung Anak Krakatau (GAK) memiliki karakter letusan yang terus berevolusi. Saat awal muncul, pola letusannya didominasi tipe erupsi Surtseyan yang sifatnya eksplosif karena dorongan uap panas dari interaksi air laut dan magma yang naik.
Akan tetapi, seiring waktu, tipe letusan Anak Krakatau bergeser jadi Strombolian dan Vulcanian. Hal ini ditandai dengan muntahan lava, lontaran batuan skoria, gas, dan abu vulkanik pekat.
Kemudian saat tubuh gunung runtuh pada akhir 2018, air laut kembali masuk mendekati pusat aktivitas magma. Ini memicu rangkaian