KETIKA Bank Indonesia (BI) meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) bersamaan dengan perluasan insentif Merchant Discount Rate (MDR) QRIS sebesar 0 persen, perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada KKI. Instrumen ini menarik karena hadir sebagai alternatif pembayaran berbasis kredit yang diproses secara domestik.
Namun, di balik itu, terdapat kebijakan lain yang tidak kalah strategis, yakni perluasan MDR QRIS 0 persen.
Kebijakan ini mungkin terlihat sederhana karena hanya menyangkut biaya transaksi. Padahal, dampaknya dapat menjangkau persoalan yang jauh lebih besar, yaitu biaya