Jakarta (ANTARA) - Antrean sejak dini hari bukan sekadar kisah tentang bimbingan belajar atau bimbel yang laris. Ia memperlihatkan bagaimana harapan, kecemasan, reputasi, dan ketimpangan akses bertemu dalam satu nomor antrean.
Pemandangan itu terasa seperti pembukaan penjualan tiket konser. Orang datang ketika langit masih gelap, sebagian bahkan menginap, lalu berharap nomor antrean di tangan menjadi jalan menuju kursi yang terbatas.
Bedanya, yang diperebutkan bukan bangku pertunjukan, melainkan kuota bimbingan belajar untuk anak. Fenomena di kawasan Gayam, Gondokusuman, Yogyakarta, itu segera