REPUBLIKA.CO.ID -- Batuk-batuk anak Gunung Krakatau, Rakata, masih terus terjadi. Abu akibat erupsinya menyebar mulai dari Sumatra sampai Jawa. Efeknya luar biasa. Pesawat terbang dilarang wara-wiri di angkasa. Sekolah di sejumlah daerah diliburkan, karena kekhawatiran efek debu vulkanik pada siswa. Namun lintas penyeberangan kapal dijaga dengan waspada.
Hidup Krakatau dan Rakata seolah senafas dengan kata bencana dan kehancuran. Padahal di balik itu, anak gunung purba ini menyimpan kehidupan yang unik. Prof Tukirin Partomihardjo adalah peneliti Lembaga Ilmi Pengetahuan Indonesia (kini