Oleh: Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute dan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polemik tentang Muhammad Nashiruddin al-Albani kembali ramai di ruang digital: apakah ia layak disebut muhaddits, atau lebih tepat disebut bahits fi al-hadits—peneliti hadis? Di media sosial, persoalan yang sebenarnya bersifat metodologis berubah menjadi pertarungan label dan identitas, bahkan dikaitkan dengan perbandingan dengan tokoh lain. Padahal, sebuah potongan video atau judul yang provokatif tidak selalu merepresentasikan keseluruhan argumentasi seorang ustadz.
Karena itu, pertanyaan yang lebih ilmiah bukan