JAKARTA, KOMPAS.com - Di Pemilu 2029 nanti, akal imitasi atau AI bakal sudah berkembang lebih canggih, mulai memprediksi sentimen perilaku calon pemilih hingga mencuci citra politikus.
Perkembangan kecerdasan buatan bahkan sudah mulai beringsut masuk ke laskap politik sejak kini.
Teknologi tersebut bukan hanya dapat digunakan untuk membantu pekerjaan teknis, tetapi juga mampu menghasilkan dan memanipulasi konten, membaca perilaku pengguna, hingga memengaruhi cara masyarakat menerima informasi.
Kondisi itu menjadi tantangan baru bagi penyelenggara pemilu, terutama Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Anggota Bawaslu