Liputan6.com, Kathmandu - Mata Talka Sada tampak letih. Kerutan di wajahnya semakin kentara karena kecemasan. Tumitnya sakit setelah berjalan berkilo-kilometer melintasi kawasan pegunungan Nepal.
Ia lapar dan marah. Perasaannya silih berganti antara berharap dan putus asa. Namun, pikirannya tetap tertuju pada satu tujuan: menemukan putranya yang hilang.
Sada, yang berusia sekitar 50-an tahun, berasal dari Saptari, sebuah distrik di kawasan Terai. Wilayah dataran ini membentang di Nepal bagian selatan, di antara Perbukitan Shivalik dan perbatasan dengan India yang relatif terbuka.