Sore itu, bumi Nagekeo bergetar. Tidak lama. Tapi cukup untuk meruntuhkan dinding-dinding Pondok Pesantren Al-Ma’arif Islami di Maba, Kelurahan Basa 1, Aesesa, Nusa Tenggara Timur.
Masjid yang biasanya bising oleh selawat, mendadak senyap. Lalu berubah jadi kepulan debu. Ruang kelas, asrama, tempat tidur para santri—semua retak. Sebagian roboh.
Bisa dibayangkan para santri itu. Anak-anak kecil yang biasanya tidur berselimut sarung di dalam kamar, kini harus tidur beratap langit. Dibungkus angin malam Aesesa yang dingin. Menggigil di bawah tenda darurat seadanya.