Ada riwayat yang tak lelah berulang, berputar di atas sajadah, menggema dari corong-corong surau setiap tanggal dua belas Rabiul Awal. Kita menyebutnya Maulid. Kata yang, jika ditimbang di timbangan sharaf, adalah isim zaman—penanda waktu.
Sebuah tikungan sejarah ketika rahim Aminah melahirkan bayi yatim yang kelak mengubah arah kompas bumi. Tapi manusia, makhluk yang gemar merayakan rupa, kerap keliru menukar wadah dengan isi.
Kita sibuk berdebat soal sah atau tidaknya puji-pujian, sibuk menghias panggung, sementara sang Maulud—bayi yang lahir itu sendiri—sering