Jakarta (ANTARA) - Pemandangan seperti ini makin biasa kita temukan.
Seseorang duduk di kedai kopi, ruang kerja, atau kamar berpendingin udara. Telepon pintar ada di tangannya. Dalam hitungan menit, ia dapat menulis kritik, membagikan potongan video, memberi label kepada seseorang, lalu menyerukan agar orang lain tidak tinggal diam.
Unggahannya menyebar. Ribuan orang bereaksi. Sebagian mungkin benar-benar turun ke jalan.
Sang penyeru tetap berada di balik layar. Sementara orang yang mengikuti seruannya harus berhadapan dengan panas, benturan, risiko hukum, bahkan kemungkinan